Sabtu, 09 Februari 2013

Proposal Penelitian

PENDAHULUAN
Latar Belakang
          Kedelai merupakan tanaman pangan penting setelah padi dan jagung. Produksi kedelai nasional berdasarkan angka tetap tahun 2011 adalah sebesar 851,29 ribu ton biji kering atau turun sebesar 55,74 ton (61,5%) dibandingkan 2010. Menurut BPS (2011) impor kedelai mencapai 2,08 juta ton (US$ 1,24 miliar). Penurunan produksi utamanya terjadi karena luas panen yang berkurang yakni 660.823 ha (2010) turun menjadi 631.425 ha (2011). Kendala lain adalah rendahnya produktivitas tanaman yakni hanya 1,3 ton/ha. Padahal pemerintah telah mencanangkan swasembada kedelai pada rahun 2014 (BPS, 2011).
          Upaya peningkatan produksi kedelai dibatasi oleh sempitnya kepemilikan lahan. Dibalik terbatasnya sumber daya lahan untuk perluasan areal pertanian, terdapat lahan yang cukup potensial untuk dimanfaatkan, yaitu di bawah kanopi tanaman perkebunan (Soverda, dkk., 2009). Pada lokakarya sistem integrasi tanaman sela di antara pertanaman kelapa sawit ditegaskan bahwa kedelai merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang dianjurkan. Hal ini dapat merujuk pada analisis usaha tani kelapa sawit dan kedelai yang menghasilkan B/C ratio sebesar 1,29 (Wardiana dan Mahmud, 2003).
          Intensitas cahaya yang rendah menjadi salah satu faktor penghambat untuk pengembangan tanaman kedelai di bawah tegakan tanaman perkebunan. Sebanyak 17 genotipe kedelai telah diuji coba untuk di tanam di bawah tegakan tanaman karet berumur 1, 3 dan 4 tahun. Produktivitas kedelai masing-masing 24-78%,  1-5% dan 1-13% (Jufri, 2006).
          Salah satu bentuk respons tanaman terhadap cahaya rendah adalah adanya perubahan morfologi pada batang karena efek naungan, sehingga batang mengalami etiolasi (Yunita, dkk., 2008). Hal ini berhubungan dengan aktifitas hormon auksin yang menyebabkan semakin tingginya tanaman kedelai dengan meningkatnya taraf naungan. Dan salah satu upaya untuk mengatasi fenomena etiolasi dalam penelitian ini adalah dengan pemangkasan pucuk.      
          Barus dan Syukri (2008) menyatakan bahwa pemangkasan tanaman merupakan usaha untuk memperbaiki kondisi lingkungan seperti suhu, kelembababan, cahaya, sirkulasi angin sehingga aktivitas fotosintesis berlangsung normal. Pemangkasan dapat memperbaiki kesehatan tanaman, pembungaan terangsang dan produksi meningkat. Dari hasil penelitian Mawarni (1997) pemangkasan pucuk tanaman kedelai pada fase pertumbuhan V5, R1 dan R3 terbukti secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kedelai. Tambahan pula pada Zamriyetti dan Rambe (2006) pemangkasan pada fase vegetatif dapat meningkatkan jumlah cabang primer dan pemangkasan pada fase generatif dapat meningkatkan bobot 100 biji dan berat biji kering per sampel.
            Tanaman  kelapa  sawit  (Elaeis  guineensis  Jacq.)  merupakan  tanaman perkebunan  yang  memegang  peranan  penting  dalam  menambah  devisa  negara. Tahun 2004 volume produk samping sawit sebesar 12.365 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan 10.215 juta ton cangkang dan serat  (Mahajoeno, 2005). TKKS  merupakan  limbah  yang  dihasilkan sebanyak 23 % dari tandan buah segar (TBS) (Darnoko, 2005).
            Pemanfaatan  TKKS telah banyak dicobakan pada berbagai komoditi pangan maupun hortikultura. Pada penelitian Muslim (2009) pemberian kompos TKKS 8000 g/plot (20 ton/ha) meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Pada Herbert (2010) pemberian kompos TKKS pada 10, 20, dan 30 ton/ha  meningkatkan total ruang pori, permeabilitas, C-Organik, N-Total dan produksi tanaman kedelai, menurunkan bulk density tanah dan C/N tanah.
            Dari uraian diatas penulis tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh pemangkasan dan pemberian kompos tandan kosong kelapa sawit pada tanaman kedelai di lahan ternaungi. Penelitian ini dilakukan di bawah tegakan tanaman kelapa sawit sebagai pengaruh naungan. Penanaman dilakukan di dalam polibeg untuk mengetahui respons pemberian kompos tandan kosong kelapa sawit secara               lebih baik.
Tujuan Penelitian
            Untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi kedelai  (Glycine max L. Merill.) terhadap perlakuan pemangkasan dan pemberian kompos tandan kosong kelapa sawit pada lahan ternaungi serta interaksi keduanya.
Hipotesis Penelitian
            Ada pengaruh nyata perlakuan pemangkasan dan pemberian kompos tandan kosong kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max L.Merill).
Kegunaan Penelitian
            Sebagai salah satu syarat untuk dapat melakukan penelitian di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara serta sebagai referensi dalam pengembangan kedelai bawah naungan.


      TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
                        Berdasarkan Steenis, dkk (2005) tanaman kedelai termasuk ke dalam, kingdom: Plantae, divisio: Spermatophyta, class: Dicotyledoneae, ordo: Fabales,  family: Leguminoceae, genus: Glycine, species: Glycine max (L) Merrill.
            Akar kedelai mulai muncul disekitar misofil kemudian akar muncul kedalam tanah, sedangkan kotiledon akan terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan dari hipokotil. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. (Suprapto, 1999).
            Kedelai adalah tanaman setahun yang tumbuh tegak (70-150 cm), menyemak, berbulu halus (pubescens), dengan sistem perakaran luas. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas  (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki ciri khas berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman berpostur sedang sampai tinggi dan  ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah  terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya  (Rubatzky dan Yamaguchi,1997).
            Daun kedelai mempunyai ciri-ciri antara lain helai daun (lamina) oval dan tata letak pada tangkai daun bersifat majemuk berdaun tiga. Daun ini berfungsi sebagai alat untuk proses asimilasi, respirasi, dan transportasi. Daun berselang-seling beranak daun tiga, licin atau berbulu, tangkai daun panjang terutama untuk daun-daun yang berada di bagian bawah (Rukmana dan Yuyun,1996).
            Pembungaannya berbentuk tandan aksilar atau terminal, berisi 3-30 kuntum bunga, bunganya kecil, berbentuk kupu-kupu, lembayung atau putih, daun kelopaknya berbentuk tabung, dengan dua cuping atas dan tiga cuping bawah yang berlainan, tidak rontok, benang sarinya sepuluh helai, dua tukal, tangkai putiknya melengkung, berisi kepala putik yang berbentuk bonggol (Suprapto, 1999).
            Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 100-250 polong. Polong biasanya berisi 2-3 biji berbentuk bundar atau pipih. Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman  (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).                                   
Syarat Tumbuh
Iklim
             Kedelai dapat tumbuh baik sampai ketinggian 1.500 dpl. Perkecambahan optimal terjadi pada suhu 30˚ C. Selain itu penyinaran matahari 12 jam/hari atau minimal 10 jam/hari dan curah hujan yang paling optimal antara 100-200 mm/bulan (Andrianto dan Indarto,  2004).
Kedelai menghendaki suhu lingkungan yang optimal untuk proses pembentukan bunga yaitu 25-28°C. Kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian tempat berkisar 20-300 m dpl. Umur berbunga tanaman kedelai yang ditanam pada dataran tinggi mundur 2-3 hari dibandingkan tanaman kedelai yang ditanam di dataran rendah (Adisarwanto, 2005).
Kedelai termasuk termasuk tanaman berhari pendek, artinya kedelai tidak mampu berbunga jika panjang hari melebihi batas kritis yaitu 15 jam per hari. Oleh sebab itu pada daerah tropis yang panjang hari 12 jam kedelai akan mengalami penurunan produksi karena masa berbunga menjadi pendek                      (Jufri, 2006)
Tanah
Tanaman kedelai dapat tumbuh baik jika drainase dan aerasi tanah baik. Untuk dapat tumbuh subur kedelai menghendaki tanah yang subur, gembur, serta kaya bahan organik. Bahan organik yang cukup akan memperbaiki dan menjadi bahan makanan bagi organisme dalam tanah (Suprapto,1999).
Tanah yang dapat ditanam kedelai harus memiliki air dan hara tanaman yang cukup untuk pertumbuhannya. Tanah yang mengandung liat tinggi perlu perbaikan drainase dan aerasi sehingga tanaman tidak kekurangan oksigen. Tanaman kedelai dapat tumbuh pada jenis tanah alluvial, regosol, gumosol, latosol dan andosol (Andrianto dan Indarto, 2004).
          Pada tanah yang memiliki pH 5,5 atau pada tanah masam pertumbuhan bintil akar akan terhambat sehingga proses pembentukan nitrifikasi                           akan berjalan kurang baik serta kedelai dapat keracunan alumunium                                       (Rukmana dan Yuyun, 1996).
Pemangkasan
            Pemangkasan  merupakan  suatu  teknik  untuk  mengatur  bentuk  tanaman agar dapat menumbuhkan tunas-tunas baru dan memungkinkan melakukan panen pada  tingkat produksi  tertentu  serta membuang  cabang yang tidak produktif  (Jaya, 2009).
Pemangkasan  pada  tanaman  bertujuan  untuk membentuk  tajuk  dan merangsang pembungaan.  Bagian  tanaman  yang  dipangkas  adalah  cabang,  ranting,  tunas, batang, dan bagian tanaman yang timbulnya berlebihan atau terserang penyakit (Putri, dkk., 2010). 
Menurut Salisbury dan Ross (1992) bahwa pertumbuhan tunas-tunas terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah dikarenakan terangsang oleh perlakuan pemangkasan. Tindakan pemotongan dilakukan agar tidak menyebabkan pengaruh yang besar terhadap kandungan karbohidrat pada batang, maka harus tetap mempertahankan tinggi pemangkasan yang optimum.
            Selain memperindah dan menyeimbangkan bentuk tanaman, pada dasarnya pemangkasan merupakan upaya perawatan yang mengacu pada manfaat atau tujuan tertentu: (1) mengatur dan mengarahkan pertumbuhan, (2) merangsang pertumbuhan bunga dan buah, (3) menyuburkan dan menyehatkan, (4) memperpanjang usia sekaligus meremajakan (Sitompul dan Guritno, 1995).
Menurut Barus dan Syukri (2008) dasar ilmiah dalam proses pemangkasan harus dipahami sebelum dilakukan pekerjaan pemangksan, yakni sebagai berikut; (a) penurunan pertumbuhan tanaman; (b) kapasitas tanaman; (c) produktivitas normal; (d) hubungan luas daun dengan kapasitas pertumbuhan; (e) Pertumbuhan dan Perkembangan tanaman.
              Produksi fotosintat, sistem translokasi fotosintat dan akumulasi fotosintat
pada suatu organ tertentu sangat ditentukan oleh kualitas pertumbuhan tanaman. Fotosintat yang dihasilkan akan optimal jika tanaman dapat melakukan proses fotosintesis secara optimal pula. Tentu hal ini sangat berhubungan dengan unsur -unsur yang terlibat dalam proses fotosintesis. Translokasi fotosintat dari sumber  (source) ke pengguna (sink) diatur oleh suatu senyawa kimia pengendali pertumbuhan tanaman yang disebut dengan  plant growth substances, jika merupakan senyawa buatan yang diberikan secara eksogen disebut plant growth
regulator (Salisbury and Ross, 1992).
Pemangkasan pucuk tanaman kedelai pada beberapa fase pertumbuhan, yakni vegetatif (V5), awal generatif (R1) dan akhir generatif (R3) terbukti secara signifikan menekan tinggi tanaman, meningkatkan luas daun, berat biji per tanaman, berat kering tajuk, cabang produktif dan jumlah polong berisi (Mawarni, 1997)
Tandan Kosong Kelapa Sawit
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) saat ini mengembangkan teknologi pengomposan yang telah dipatenkan dengan menggunakan bahan baku limbah kelapa sawit (Patent No. S00200100211, Guritno et al., 2001 dalam PPKS, 2008). Teknologi ini memungkinkan tercapainya "zero waste" pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS),  yang berarti semua limbah di PKS akan terolah sehingga tidak ada lagi limbah yang dibuang ke lingkungan. Kompos TKKS  tersebut  telah dimanfaatkan baik untuk tanaman kelapa sawit itu sendiri, tanaman pangan maupun tanaman hortikultura (PPKS, 2008).
TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) adalah limbah pabrik kelapa sawit
yang jumlahnya sangat melimpah. Setiap pengolahan 1 ton TBS (Tandan Buah Segar) akan dihasilkan TKKS sebanyak 22 – 23% TKKS atau sebanyak 220 – 230 kg TKKS. Apabila dalam sebuah pabrik dengan kapasitas pengolahan 100 ton/jam dengan waktu operasi selama  1  jam, maka akan dihasilkan sebanyak  23  ton (Yunindanova, 2009).
Kandungan nutrisi kompos tandan kosong kelapa sawit: C 35%, N 2,34%, C/N 15, P 0,31%, K 5,53%, Ca 1,46%, Mg 0,96%, dan Air 52%. Kompos TKKS dapat diaplikasikan untuk berbagai tanaman sebagai pupuk organik, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan pupuk kimia (Widiastuti dan Panji, 2007).       
Peningkatan pertumbuhan akar dalam tanah yang  ditambahkan dengan pupuk atau bahan organik sisa-sisa pembusukan, dapat meningkatkan produksi akar-akar cabang dalam tanah yang diaplikasikan pupuk tersebut. Setiap penambahan pupuk dapat mendorong seluruh pertumbuhan  tanaman dan secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan akar pada seluruh kedalaman perakaran normal dan bahkan mendorong perakaran  lebih  dalam (Muslim, 2009).
Hanafiah (2005) menyatakan bahwa pemberian bahan organik  tanah dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui hasil dekomposisinya yang menghasilkan asam-asam organik dan CO2. Asam-asam organik seperti asam  malonat, asam oksalat dan asam tatrat akan menghasilkan anion organik. Anion organik mempunyai sifat dapat mengikat ion Al, Fe dan Ca dari dalam larutan tanah, kemudian membentuk senyawa kompleks yang sukar larut.
Pengaruh Naungan dan Mekanisme Adaptasi Tanaman Kedelai                       
 Menurut Salisbury dan Ross (1992) cahaya matahari sangat besar peranannya dalam proses fisiologi tumbuhan seperti proses fotosintesis, respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, dan berbagai pergerakan tanaman dan perkecambahan. Pada kondisi cahaya rendah, bentuk adaptasi tanaman meliputi: 1) pengurangan kecepatan respirasi untuk menurunkan titik kompensasi. 2) peningkatan luas daun untuk memperoleh satu permukaan yang lebih besar bagi absorbsi cahaya; 3) Peningkatan kecepatan fotosintesis setiap unit energi cahaya dan luas daun.
 Kedelai merupakan tanaman C3 yang dapat mengalami kehilangan air lebih banyak dibandingkan tanaman C4 seperti jagung dan sorgum, karena tanaman C3 memiliki rasio transpirasi yang lebih tinggi dan keadaan stomata yang selalu terbuka. Tanaman C4 akan tumbuh baik pada lahan terbuka, sedangkan tanaman C3 lebih mampu ditanam pada lahan ternaungi (Yunita, dkk., 2008).
            Berdasarkan hasil penelitian Soverda, dkk (2009) menyatakan pada pemberian naungan 50% berpengaruh nyata terhadap jumlah polong pertanaman. Penurunan jumlah polong pertanaman dikarenakan pendistribusian hasil bulir lebih besar diberikan ke tanaman yang menerima cahaya normal. Hasil penelitian Wahyu dan Sundari (2011)  jumlah polong isi pertanaman pada lingkungan tanpa naungan berkisar antara 24-35 polong dengan rata-rata 29 polong, sedangkan pada lingkungan ternaungi 50% berkisar antara 6-16 polong dengan rata-rata 12 polong, terjadi penurunan jumlah polong 42%.
            Efek pendorong auksin (penumbuh akar) akibat kekurangan  adanya cahaya, oleh sebab itu tunas yang mendapat penyinaran tidak tumbuh secepat tunas ditempat gelap. Dengan demikian pertumbuhan dilapangan merupakan hasil dari rangsangan cahaya melalui fotosintesis dan produksi bahan makanan dan hambatan cahaya melalui pengurangan efek auksin (Sitompul dan Guritno, 1995).                              Bila pengaruh-pengaruh sederhana suatu faktor berbeda lebih besar daripada yang dapat ditimbulkan oleh faktor kebetulan, beda respon ini disebut interaksi antara kedua faktor itu. Bila interaksinya tidak nyata, maka disimpulkan bahwa faktor-faktornya bertindak bebas satu sama lain , pengaruh sederhana suatu faktor sama pada semua taraf faktor lainya dalam batas-batas keragaman acak (Steel and Torrie, 1993).
              Karakter morfologi tanaman ternaungi dibandingkan dengan tanaman yang mendapat cahaya penuh menurut Daubenmire (1974) dan Anderson dan Osmon (1987) dalam Wirnas (2005) ditandai dengan batang lebih kecil karena xilem kurang berkembang, luas daun per tanaman lebih besar, jarak antar buku lebih panjang, jumlah cabang lebih sedikit, akar lebih pendek, rasio akar dan tajuk rendah, bintil akar sedikit. Dari segi anatomi terlihat bahwa sel daun berukuran lebih besar dan tipis, endodermis, kutikula dan dinding lebih berkembang, kloroplas lebih banyak dan besar. Karakter fisiologi tanaman ternaungi ditandai dengan kandungan klorofil lebih tinggi, laju fotosintesis rendah, laju respirasi rendah, kandungan air lebih tinggi, tranpirasi lebih lambat dan C/N rendah.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini direncanakan dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, di bawah tegakan tanaman kelapa sawit, pada ketinggian ± 25 m di atas permukaan laut. Penelitian akan dilaksanakan mulai Januari hingga April  2012.
Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan meliputi; benih kedelai varietas Anjasmoro, topsoil, kompos TKKS, pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk KCl, polibeg 22x35 cm dan pestisida.
            Alat yang digunakan meliputi cangkul, parang, gembor, tali rafia, gunting pangkas, handsprayer, pacak sampel, kalkulator, penggaris, kamera, ayakan 4 mm, oven, serta alat-alat untuk mengukur peubah amatan seperti  meteran, timbangan, thermohygrometer, lux meter, leaf area meter  dan  neraca analitik.
Metode Penelitian
            Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan:
Faktor I : Perlakuan Pemangkasan, dengan 3 fase, yakni;
                       P0  = tanpa pemangkasan
                       P1  = pemangkasan pada fase vegetatif (V5)
                       P2  = pemangkasan pada fase generatif (R1)
Faktor II  : Pemberian Kompos TKKS, dengan 4 taraf yakni;
                      T0 = tanpa pemberian TKKS
                      T1 = pemberian 10 ton/ha TKKS (62,5 g/tanaman)
                      T2 = pemberian 20 ton/ha TKKS (125 g/tanaman)
                      T3 = pemberian 30 ton/ha TKKS (187,5 g/tanaman
Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan, yaitu :
P0T0                P1T0                P2T0               
P0T1                P1T1                P2T1
P0T2                P1T2                P2T2               
P0T3                P1T3                P2T3

Jumlah ulangan                             : 3 ulangan
Jumlah plot                                    : 36 plot
Ukuran plot                                   : 100 cm x 100 cm
Jarak antar plot                              : 20 cm
Jarak antar blok                             : 50 cm
Jumlah Polibeg/plot                       : 6 polibeg
Jumlah tanaman/plot                     : 6 tanaman
Jumlah tanaman seluruhnya          : 216 tanaman
Jumlah sampel/plot                        : 4 tanaman
Jumlah sampel seluruhnya             :  144 tanaman
Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :
Yijk = μ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
i = 1, 2, 3         j = 1, 2, 3         k = 1, 2, 3, 4
Keterangan:
Yijk     : Data hasil pengamatan dari unit percobaan blok ke-i dengan  perlakuan
             pemangkasan taraf ke-j dan pemberian TKKS  taraf ke-k
μ          : Rataan umum
ρi         : Efek blok ke-i
αj         : Efek perlakuan pemangkasan taraf  ke-j
βk        : Efek pemberian TKKS taraf  ke-k
(αβ)jk      : Efek interaksi dari perlakuan pemangkasan ke-j dan pemberian
              daminozide TKKS  pada  taraf ke-k
εijk      : Efek error pada blok ke-i yang mendapat perlakuan pemangkasan
  pada taraf ke-j dan pemberian TKKS pada taraf ke-k.
Jika dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda rataan berdasarkan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1989).
PELAKSANAAN PENELITIAN
Penetapan Lokasi dan Plot
            Penelitian dilakukan pada lahan ternaungi yakni di bawah tegakan tanaman kelapa sawit yang memiliki efek naungan yang merata. Plot ditempatkan pada koridor (gawangan) antar barisan tanaman kelapa sawit.
Persiapan Media Tanam dan Aplikasi TKKS
            Tanah dikeringanginkan terlebih dahulu selama seminggu, dibersihkan dari sampah dan sisa akar, diayak dengan ayakan 4 mm untuk menghasilkan struktur tanah yang remah. Tanah kemudian dimasukkan ke dalam polibeg dan ditimbang seberat 10 Kg/polibeg.
Kompos TKKS  yang telah ditimbang sesuai perlakuan dimasukkan ke dalam media tanam di polibeg dengan cara menuangkan seluruh dosis/tanaman, kemudian mencampurkan secara merata pada lapisan tanah atas.
Penanaman Benih
            Sehari sebelum tanam, tanah diberi Curater sebanyak 0,2 g per lobang untuk mencegah serangan lalat bibit. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam dipolibag kedalaman + 2 cm, kemudian dimasukkan 3 benih per lubang tanam dan ditutup dengan tanah.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan sesuai dengan dosis anjuran kebutuhan pupuk kedelai yaitu  100 kg Urea/ha (0,625 g/lubang tanam), 200 kg TSP/ha                        (1,25 g/lubang tanam), dan 100 kg KCl/ha (0,625 g/lubang tanam) dosis dikonversi berdasarkan jarak peletakan polibeg (25 x 25 cm). Pemupukan Urea dilakukan dalam 2 tahap yakni pada saat penanaman sebanyak setengah dosis anjuran dan setengah dosis lagi diberikan pada saat tanaman berumur  30 hari setelah tanam  sedangkan pupuk TSP dan KCL diberikan pada saat penanaman.
Pemangkasan
            Pemangkasan dilakukan sesuai dengan perlakuan, dengan ketentuan sebagai berikut:
-          Perlakuan P0         : tidak dilakukan perlakuan pemangkasan pada tanaman
-          Perlakuan P1         : tanaman dipangkas pada fase vegetatif (V5), dengan memotong satu ruas pada batang utama
-          Perlakuan P3         : tanaman dipangkas pada fase generatif (R1), dengan memotong satu ruas pada batang utama dan satu ruas dari cabang-cabang.
Penetuan kriteria fase pertumbuhan tanaman kedelai dapat dilihat pada Lampiran 4.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
            Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari hingga tanah dalam kapasitas lapang dan disesuaikan dengan kondisi pada media tanam.
Penyulaman dan Penjarangan
Penyulaman dilakukan untuk menggantikan tanaman yang mati dengan tanaman cadangan yang masih hidup yang telah disediakan dan sesuai  varietas. Penyulaman dilakukan 7-10 hari setelah tanam. Penjarangan dilakukan menjadi satu tanaman perpolibeg  10 hari setelah tanam. Waktu penyulaman terbaik adalah sore hari.

Penyiangan
            Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang ada dalam polibeg, untuk menghindari persaingan dalam mendapatkan unsur hara dari dalam tanah. Penyiangan  dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Pengandalian Hama dan Penyakit
            Pengendalian hama dan penyakit disesuaikan dengan jenis dan tingkat serangan yang ditimbulkan.
Pengamatan Parameter
Tinggi tanaman (cm)
            Pengamatan parameter tinggi tanaman dilakukan mulai dari 2 MST (V1) sampai dengan 8 MST (R3). Pengamatan tinggi tanaman  diukur mulai dari leher akar sampai titik tumbuh tunas tertinggi. Jika jadwal pengamatan tinggi tanaman bersamaan dengan waktu pemangkasan, maka tinggi tanaman diukur setelah tanaman dipangkas sesuai perlakuan.
Jumlah cabang produktif (cabang)
            Cabang produktif adalah cabang yang keluar dari batang utama dan menghasilkan polong. Pengamatan jumlah cabang produktif dilakukan pada saat menjelang panen.
Total luas daun (cm2)
            Total luas daun diukur pada 3 MST dan 7 MST dengan mengambil seluruh daun dari sampel dekstruktif dari setiap plot. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Leaf Area Meter.


Rasio Bobot Kering Akar dan Tajuk
            Rasio akar dan tajuk adalah perbandingan antara bobot kering akar dengan bobot kering tajuk. Pada tahap pemanenan, tanaman dicabut beserta akar kemudian dibersihkan. Tanaman dipotong pada bagian leher akar, sehingga terpisah antara bagian tajuk dan akar. Masing-masing bagian diovenkan pada suhu 70oC hingga berat konstan. Bobot kering kedua bagian ditimbang kemudian dihitung rasio bobot akar dan tajuk.
Jumlah Polong Per Tanaman
            Dihitung pada saat panen dengan menghitung jumlah polong yang dihasilkan per tanaman.
Jumlah Biji Per Tanaman (biji)
            Pengamatan dilakukan setelah biji dikeringkan dengan cara menghitung jumlah biji per tanaman.
Bobot Kering Biji Per Tanaman (g)
            Pengamatan dilakukan pada biji dengan kadar air 14%. Dikeringkan didalam oven suhu 70oC hingga mencapai kadar air yang diinginkan. Kemudian biji ditimbang per tanaman. Penentuan kadar air 14%, didasarkan pada rumus sebagai berikut:
Kadar air (%) =  bobot segar biji (g) – bobot kering biji (g)   x 100%
                                           bobot segar biji (g)

Bobot 100 biji kering (g)
            Biji yang telah memiliki kadar air 14%, kemudian dihitung bobot 100 biji dengan rumus sebagai berikut:
bobot 100 biji kering (g) =   bobot biji per tanaman (g)    x 100%
                                             Jumlah biji per tanaman (biji)

Pengamatan Iklim Mikro
            Parameter iklim mikro yang diamati meliputi; kelembaban relatif (RH) dan suhu rata-rata dengan menggunakan thermohygrometer dan intensitas penyinaran dengan menggunakan lux meter. Pengamatan dilakukan 3 kali yakni; 1) pada saat penanaman; 2) pada saat kedelai memasuki fase V5; 3) pada saat kedelai memasuki R1.
 DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, 2008. Budidaya  Kedelai  Tropika. Penebar  Swadaya, Jakarta.

Andrianto,T dan N. Indarto. 2004. Budidaya dan Analisis Usaha Tani Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang. Cetakan Pertama. Penerbit Absolut, Yogyakarta.

Barus, A dan Syukri, 2008. Agroekoteknologi Tanaman Buah-Buahan. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Badan pusat statistik, 2011. Produksi Tanaman Padi dan Palawija di Indonesia. Diakses dari http://bps.go.id. [10 oktober 2012]

Darmosarkoro, W. dan S. Rahutomo, 2000. Tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan pembenah tanah. Prosiding Pertemuan Teknis Kelapa Sawit 2000  II, 13 – 14 Juni 2000. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Darnoko, D Dan T. Sembiring. 2005. Sinergi Antara Perkebunan Kelapa Sawit Dan Pertanian  Tanaman  Pangan Melalui  Aplikasi  Kompos Tks  Untuk  Tanaman Padi.  Pertemuan  Teknis  Kelapa  Sawit  2005:  Peningkatan  Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Pemupukan Dan Pemanfaatan Limbah Pks. Medan 19-20 April

Hanafiah,  K.  A.  2005.  Dasar-Dasar  Ilmu  Tanah.  PT.  Raja  Grafindo  Persada.                Jakarta.

Herbert, M. C. S, 2010. Perubahan sifat fisika tanah ultisol akibat pemberian Bokashi dan kompos tandan kosong sawit serta efeknya terhadap produksi tanaman kedelai (Glycine max l). Departemen ilmu tanah, Fakultas pertanian Universitas sumatera utara, Medan.

Jaya, K. D. 2009. Pengaruh pemangkasan cabang terhadap hasil tanaman brokoli (Brassica oleracea L. var. italica) di dataran rendah. Crop Agro, 2(1).

Jufri, A. Mekanisme adaptasi kedelai terhadap cekaman intensitas cahaya rendah. Thesis. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mardiana, W. 2004. Laju Dekomposisi Aerob Mutu Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Penambahan Mikroorganisme Sellulolitik, Amandemen dan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit. Tesis. Repository USU. 

Munar. A, 2009. Pemberian kompos tks, amandemen, dan pupuk standar pada typic hapludult terhadap serapan n, p, k dan pertumbuhan tanaman kedelai. J. Penel.Bid. Il.  Pert. 3(3):79-87.

Muslim. 2009. Efektivitas pemberian mikoriza dan kompos tandan kosong kelapa sawit terhadap pertumbuhan  dan produksi kedelai pada waktu tanam yang berbeda. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

PPKS. 2008. Kompos bio organik tandan kosong kelapa sawit. Pusat Penelitian               Kelapa Sawit. Medan.

Putri, D. S., A. P. Lontoh., Haryadi. 2010. Pengaruh pemangkasan dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan  hasil tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.). J. Penel.Bid. Il.  Pert. 3(2):70-81.

Rubatzky,U. B dan M. Yamaguchi. 1997. Sayuran Dunia, Prinsip Produksi dan Gizi. Edisi kedua. Penerjemah Catur Herison. ITB Press, Bandung.

Rukmana, dan Yuyun, 1996. Kedelai, Budidaya dan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.

Salisbury, F. B and C.W. Ross, 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3 Perkembangan Tumbuhan Fisiologi Lingkungan. Penerbit ITB, Bandung

Soverda, N. Evita dan Gustiwati, 2009. Evaluasi dan seleksi varietas tanaman kedelai terhadap naungan dan intensitas cahaya rendah. Laporan akhir Hibah Departemen pendidikan nasional. Universitas Jambi Press, Jambi.

Sitompul, S. M., dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Steel, R.G.D., J.H. Torrie, 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Steenis, C.G.G.J., S. Bloembergen., P.J. Eyma. 2005. Flora. Cetakan kesepuluh. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Suprapto,1999. Bertanam Kedelai.Penebar Swadaya.Jakarta.

Wardiana, E., dan Z. Mahmud, 2003. Tanaman sela di antara tanaman kelapa sawit. Lokakarya system integrasi ternak dan sapi. Loka penelitian tanaman sela perkebunan parang kuda, Jawa Barat.

Wirnas, D, 2005. Analisis kuantitatif dan molekuler dalam rangka mempercepat perakitan varietas baru kedelai toleran terhadap intensitas cahaya yang rendah. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Widiastuti dan Panji, T. 2007. Pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sisa jamur merang (Volvariella volvacea)  (TKSJ) sebagai pupuk organik pada pembibitan  kelapa sawit. Menara Perkebunan, 75 (2), 70-79.  Balai Penelit ian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.

Yunindanova, M. B. 2009. Tingkat kematangan kompos tandan kosong kelapa sawit dan penggunaan berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Llycopersicon esculentum mill.) dan Cabai (capsicum annuum l.) Program studi agronomi, Fakultas pertanian , Institut pertanian bogor.

Yunita, R., Trikoesoemaningtyas, dan D. Wirnas. 2008. Uji Daya Hasil Lanjutan galur-Galur kedelai (Glycine max L. Merill) toleran naungan di bwah tegakan tanaman karet rakyat. Makalah seminar Departemen agronomi dan Hortikultura, Universitas Jambi, Jambi.

Zamriyetti dan S. Rambe. 2006. Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merrill) Pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Daun Grow More dan Waktu Pemangkasan.


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar